Berita dari Papua

PT Freeport Indonesia sejak awal sudah tidak
bersahabat dengan penduduk lokal, seperti, mengacuhkan hak tanah dan kepentingan
penduduk lokal. Bahkan lebih buruknya lagi menggunakan aparat keamanan untuk
melakukan kekerasan. PT.Freeport merupakan perusahaan penambangan emas dan
tembaga terbesar Amerika Serikat (AS) di Indonesia yang beroperasi di kawasan
Tembaga Pura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua.

Dahulu di tengah masyarakat ada mitologi menyangkut manusia
sejati, yang berasal dari sebuah Ibu, yang menjadi setelah kematiannya berubah
menjadi tanah yang membentang sepanjang daerah Amungsal ( Tanah Amugme ), yang
menjadi bagian dari wilayah kontrak karya PT Freeport Indonesia.

Sejak
tahun 1971, PT Freeport Indonesia, masuk ke daerah keramat ini, yang tidak
diijinkan secara adat dimasuki secara turun -temurun yakni di daerah "kepala"
dari Ibu mereka ( Ersberg — yg open pit-nya telah ditambang sampai habis pada
tahun 1989, lalu berlanjut oleh Ginandjar Kartasasmita, selaku Mentamben pada
tahun 1996, pada KK di wilayah Grasberg Open Pit, DOZ, IOZ, DOM, Kucing Liar,
Amole dengan ijin produski yang tercantum pada AMDAL adalah 300 ribu /ton/hari
). Bahkan sejak tahun 1971 itulah warga Amugme dipindahkan ke luar dari wilayah
"leher" Ibu mereka ke wilayah kaki (suku Komoro, kira-kira di mile 65-74. FYI,
mile 74 sudah masuk garis pantai. Akibat pemindahan ini, maka ada berpuluh
bahkan beratus orang yang mati. Hal ini karena daya tahan tubuh terserang kuman
penyakit yang berada di daerah  dataran renda/ rawa (misalnya
malaria).

Sejak tahun 70-an itulah, Kelly Kwalik yang adalah seorang guru
agama meletakan kantur tulis-bolpen-buku, masuk ke dalam hutan dan memimpin
gerakan OPM di wilayah Timika dan sekitarnya. Ia mau membela eksistensi suku dan
bangsanya yg telah digadaikan sejak jaman Ibnoe Soetowo bertemu Henri Kensinger
di Washington DC pada tahun 1967 itu. Saat itu tahun 1970-an tengah terjadi
perang melawan TNI di suku Yali, Damal dan Dani, yang memakan korban ribuan
orang. Puncaknya bahkan TNI AU yang bermarkas di Baukau TL  pada tahun 1979
mengerakan pesawat Tempur-nya untuk membombardir dan menembak ribuan orang suku
ini.

Selama perang, banyak diceritakan bahwa para perempuan diperkosa,
suami isteri disuruh berhubungan sex di depan umum, bahkan ada isteri yang
disuruh memakan kelamin suaminya (setelah suaminya di bunuh). Kubur hidup yang
digali oleh mereka pun, tekadang hanya pas untuk badannya, yang kemudian disuruh
masuk dan ditembak mati, sehingga ia mati berdiri (tengkorak mereka yg mati
berdiri pada saat ini bisa di lihat di wilayah kecamatan Piramid).

Pada
tahun 1980-an, mulai dilakukan operasi budaya. Ada pelarangan permaian musik
khas wilayah suku - suku di wilayah Peng. Tenggah Papua ( Dani, Mee, Yali,
Damal, Amugme ), pelarangan penggunaan koteka, wajib ‘jatah beras’, wajib
belajar kurikulum nasional, dan ada kasus pembunuhan Arnol Ap pada April 1984,
dll.

Pada tahun 1995-1996 terjadi beberapa kali bentrok di areal
penambang PT Freeport Indonesia antara penduduk dengan aparat keamanan yang
menjaga PF Freeport. Bocoran laporan keuangan tahunan PF Freeport Indonesia pada
tahun 1996  tertulis Soeharto mendapat ‘ oleh-oleh’ Rp. 32 milyar rupiah.

Pada kurun waktu yang sama, dengan adanya ‘drama’ penyanderaan di
Mapenduma. Di mana Prabowo S membawa Kopassus, serta tentara sewaan dari Inggris
dan Afrika Selatan (mereka yang disebutkan akhir ini diangkut dalam pesawat
Palang Merah Internasional yang menembaki OPM dari dalam pesawat tersebut ).
Bersamaan dengan waktu itu, di kota Timika dan sekitarnya masyarakat suku Amugme
di Timika di paksa untuk menunjukkan di mana beradanya Kelly Kwalik dan
pasukannya. Banyak yang disiksa.

Pada saat itulah Mama Yosepha Alomang
(pada tahun 2001 mendapatkan Goldman Environmental Prize), seorang ibu rumah
tangga, dimasukan oleh TNI ke dalam kointainer milik PT Freeport Indonesia
bersama ‘kotoran manusia’ selama 1 minggu.

27 Desember 2005, kita semua
baru saja mendapatkan laporan dari New York Times tentang PT FI,  " Di bawah
Gunung Kekayaan mengalir Sungai Limbah’ oleh Jane Perlez dan Raymond Bonner,
yang menyebutkan 1998 - 2004 ada $ 20 juta yang mengalir ke pihak militer,
bahkan menuju ke dalam kantong beberapa ‘person’ jenderal, kolonel, letkol.
Seolah - olah PT FI ‘memelihara’ TNI. Freeport diduga membayar jutaan dolar
kepada sejumlah pejabat militer di Papua dan memberikan fasilitas khusus kepada
militer dan kepolisian demi mengamankan operasi pertambangan
mereka.

pernyataan Menteri Pertahanan, Juwono Sudarsono kepada Financial
Times, 7 Februari 2006 yang berminat menyusun perubahan aturan tentang hubungan
korporasi dan militer Indonesia, untuk membuka peluang bagi TNI baik institusi
dan anggotanya untuk kembali berbisnis dan menikmati kucuran dana dari
korporasi.

Leave a Reply